Skripsi
Pengaruh Solid Content Terhadap Reologi Lumpur KCL-Polimer Di PT Chevron Pacific Indonesia / 13411005 / Pemboran / PRD / 2017 (Diploma : IV)
Pada pemboran suatu sumur, tujuan utama yang paling penting adalah mencapai zona reservoir dengan aman, cepat, dan ekonomis. Salah satu komponen yang penting dalam proses pemboran adalah lumpur pemboran. Selama pemboran berlangsung sifat-sifat fisik lumpur pemboran harus dijaga. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan kualitas lumpur pemboran dalam menjalankan fungsinya dan mencegah terjadinya masalah dalam pemboran. Sifat fisik lumpur yang harus selalu dimonitor adalah sifat reologi dan kadar padatan. Dalam lumpur, sifat reologi yang penting meliputi Plastic Viscosity (PV), Yield Point (YP), dan Gel Strength (GS). Parameter reologi tersebut dapat diketahui melalui pengukuran menggunakan Fann VG Meter dengan melihat hasil pembacaan R600, R300, R200, R100, R6, dan R3. Sifat-sifat tersebut sangan rentan terhadap perubahan kadar padatan (Solid Content). Pengukuran kadar padatan dalam lumpur dilakukan dengan menggunakan Mud Retort. Padatan dalam lumpur dibagi menjadi dua, yaitu Low Gravity Solid (LGS) dan High Gravity Solid (HGS). Padatan dalam lumpur akan bertambah seiring penambahan kedalaman pemboran. Seiring bertambahnya jumlah padatan dalam lumpur, maka sifat reologi lumpur juga dapat berubah. Lumpur yang digunakan pada sumur X lapangan Y adalah Water Base Mud jenis KCl – Polimer dengan rentang densitas 8.7 – 9.1 ppg (Un-Weighted Mud), Solid Content tercatat sebesar 0.97 – 2.92 %, High Gravity Solid tercatat sebesar 2.1 – 2.9 %, Low Gravity Solid tercatat sebesar 1.06 – 2.95 %, dan hasil MBT rata-rata 5 ppb. Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis, High Gravity Solid dalam lumpur tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan sifat reologi lumpur pemboran, sedangkan Low Gravity Solid dan Solid Content dalam lumpur berpengaruh signifikan terhadap perubahan sifat reologi lumpur pemboran, yaitu masing-masing sebesar 20,3 % dan 18,5 %. Namun, pengaruh bertambahnya kadar padatan dalam lumpur terhadap sifat Yield Point tidak terlalu signifikan, yaitu hanya sebesar 0,2 – 1,5 %. Perubahan sifat reologi tersebut ikut andil dalam menimbulkan kendala-kendala dalam operasi pemboran sumur X lapangan Y, meliputi Equivalent Circulating Density (ECD) naik sebesar 7,52 %, tekanan Swab dan Surge naik sebesar 7,9 – 8 %, Rate of Penetration (ROP) turun sebesar 22 – 26 %, dan terjadi Pipe Stuck sepanjang Horizontal Section sebanyak 5 kali. Oleh karena itu, kadar padatan dalam lumpur juga harus dimonitor untuk menjaga kestabilan sifat reologi lumpur.
Tidak tersedia versi lain